Weblog Perpustakaan Unsri

Home » JKDMM » BROSUR SEBAGAI SALAH SATU MEDIA PUBLIKASI UNTUK PEMASYARAKATAN PERPUSTAKAAN, Oleh Sudirman Bakri dan Mulkan Achmad

BROSUR SEBAGAI SALAH SATU MEDIA PUBLIKASI UNTUK PEMASYARAKATAN PERPUSTAKAAN, Oleh Sudirman Bakri dan Mulkan Achmad

Kirim SMS Gratis di sini

SMS Gratis
Please upgrade your browser

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 4 other followers

Abstrak

Brosur atau sering juga  disebut  dengan leaflet biasanya dicetak dengan ukuran kecil atau kertas  yang dilipat-lipat sehingga tetap mudah dibawa kemana-mana. Brosur umumnya hanya menjelaskan satu hal tertentu, tetapi informasi yang disajikan lebih banyak/rinci dibanding poster. Seperti juga bulletin, brosur termasauk kategori media perorangan dalam arti masyarakat dapat membawa dan membacanya sendiri di tempat dan  waktu yang lebih leluasa dibanding poster dan papan informasi. Brosur sangat berpengaruh terhadap keperluan promosi baik di kalangan ilmiawan, birokratisasi, dan kalangan bisnis lainya. Sebab brosur sebagai media yang dapat menganhantarkan informasi terhadap klainnya. Di perpustakaan upaya promosi salah satunya dengan cara menerbitkan brosur yang memuat informasi kegiatan dan segala aspek terkait dengan layanan yang ada di perpustakaan. Perpustakaan yang sudah berkembang tidak akan dapat meninggalkan brosur sebagai salah satu media untuk mempromosikan semua aspek kegiatan yang terkait dengan perpustakaan.

PENDAHULUAN

Di berbagai lembaga atau perusahaan-perusahan selalu menggunakan brosur sebagai  salah satu upaya mempromosikan atau memasyarakatkan berbagai aspek kegiatan perusahaan dan lembaga-lembaga tertentu lainya salah satunya adalah perpustakaan. Dengan menyebarkan brosur tersebut maka semua informasi terkait dengan perusahaan atau lembaga tertentu lainnya akan cenderung menghasilkan prestasi yang memuaskan bagi suatu perusahaan, lembaga-lembaga komersial dan termasuk lembaga informasi seperti perpustakaan. Sesuai dengan fungsinya perpustakaan dalam melaksankan aktivitasnya sangat memerlukan fasilitas promosi sebagai upaya pemasyarakatan dan sosialisasi berbagai aspek kegiatan yang dilakukannya. Salah satunya adalah  brosur perpustakaan, sebagai upaya menunjang pelaksanaan program tri dharma perguruan tinggi  yang menjadi lembaga induknya, maka perpustakaan dituntut agar proaktif untuk  melakukan berbagai kegiatan promosi guna memotivasi para pemakai perpustakaan dan masyarakat disekitarnya terutama masyarakat dilingkungan sivitas akademikanya, serta masyarakat yang ada di sekitar wilayahnya.

Pengelolaan brosur sebagai sarana promosi di perpustakaan  hendaknya dalam menangani brosur dimaksud  selalu dinamis setiap kali akan menerbitkannya sesuai priode dan topik  kegiatan yang akan dilakukan. Jadi semua aspek hendaknya kontras selaras dengan kegiatan yang dilakukan sehingga bentuk, warna dan huruf yang hendak dipakai dapat disesuaikan. Karena masing-masing komponen memiliki  makna dan tujuan sendiri-sendiri.

Di perpustakaan biasanya memiliki terbitan-terbitan,  seperti, accession list (daftar tambahan buku), daftar indeks artikel majalah dan surat kabar,  daftar judul majalah, daftar skripsi dan tesis, abstrak karya tulis mahasiswa dan dosen, dan majalah atau bulletin perpustakaan yang memuat tentang berita kegiatan perpustakaan, atau tulisan tentang kepustakawanan dan lain sebagainya. Brosur perpustakaan biasanya memuat informasi tentang kegiatan perpustakaan yang menampilkan foto kegiatan, dan informasi lainnya yang disesuaikan dengan  momentum yang akan dilakukan.

Untuk menjalankan fungsinya, perpustakaan hendaknya proaktif terhadap berbagai perkembangan informasi global yang saat ini sedang  trend  pemanfaatnnya, sehingga apa yang menjadi visi dan misi  perpustakaan akan tercapai dengan baik dan tepat pada sasaranya. Upaya tersebut hendaknya  dilakukan berbagai pembenahan-pembenahan disana sini, seperti dikatakan dalam sambutan buku strategi dan pemikiran  perpustakaan : visi  Hernandono ( Sutoyo, 2001: i)  bahwa untuk mengantisipasi hal itu, perpustakaan perlu proaktif melayani masyarakat dengan menyediakan layanan informasi berbasis teknologi informasi. Perpustakaan perlu melakukan pembenahan diri agar selalu menjadi ujung tombak penyedia informasi untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.

Dengan demikian, terkait penerbitan brosur sebagai upaya memasyaratkan perpustakaan dan sekaligus mendesiminasikan informasi di perpustakaan ke berbagai lapisan masyarakat yang ada disekitarnya.

Sejalan dengan program pemberdayaan teknologi informasi sebagai upaya  mempromosikan  perpustakaan, maka pemanfaatan sarana elektronis berupa situs  web perpustakaan melalui internet adalah media elektronis yang cepat, tepat dan mudah. Lebih lanjut (Suciati, 2000:15) mengemukakan  ada 10 jenis promosi perpustakaan yaitu; 1) pameran, 2) peragaan, 3) bulletin perpustakaan, 4) buku pedoman, 5) indeks artikel, 6) ceramah, 7) leaflet, 8) daftar tambahan koleksi, 9) iklan, dan 10) publikasi.

Dengan uraian di atas, maka  program teknologi informasi melalui jaringan internet,  salah satunya  adalah pemanfaatan brosur elektronis mudah diakses dan luas jangkauannya serta cepat penyebarannya ke seluruh penjuru dunia.

Tulisan artikel sederhana ini diketengahkan untuk membahas tentang aspek-aspek yang terkait dengan pengelolaan brosur perpustakaan. Mudah-mudahan apa yang disajikan ini akan memberikan tambahan wawasan dan pengalaman bagi para pustakawan pengelola terbitan perpustakaan terutama pengelolaan brosur perpustakaan.

BEBERAPA ASPEK TERKAIT PENERBITAN BROSUR

Sebagaimana didefinisikan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ( 2001:1182) bahwa penerbitan adalah  i) proses, cara, perbuatan menerbitkan, ii) pemunculan, iii) urusan (pekerjaan dsb) menerbitkan (buku dsb)  Di perpustakaan  yang telah maju selalu menerbitkan media publikasi  seperti bulletin, brosur, leaflet, daftar tambhan koleksi, jurnal dan lain-lain. Dalam pengelolaan terbitan  selalu dicantumkan susunan redaktur, penyunting dan berbagai versi  tergantung kesepakatan  di perpustakaan yang bersangkutan sebelumnya. Dalam tulisan ini membahas tentang penerbitan  brosur, maka banyak  hal-hal yang menjadi  perhatian bagi pengelolanya  sebelum melakukan penerbitan. Seperti apa yang dijelaskan oleh  Kusuma, Candra dkk (2007:26-30) yaitu :

1.  Jenis dan ukuran huruf  brosur

Penerbitan brosur hendaknya disesuaikan leter hurufnya agarmudah dibaca,  menurut Kusuma sebaiknya hurufnya agak besar biar gampang dibaca.

2.  Penggunaan bahasa dalam brosur

Tulisan yang dipakai menggu8nakan bahasa Indonesia bias dipahami, karenma sudah tidak ada yang buta huruf disini. Pada intinya gunakan bahasa sederhana, tidak banyak istilah asing. Tapi untuk penjelasannya secara langsung ke masyarakat bias dipakai bahasa Jawa.

Penulis berpendapat sangat tergantung dimana lingkungan brosur diterbitkan. Jadi kalau ia diterbitan di daerah Jawa ia, sebaiknya bahasa jawa, kalu di Sumatera misalnya di Palembang hendaknya bahasa Palembang.

3.  Tulisan dan gambar pada brosur

Kalau mau lebih jelas ya dibuat ada gambarnya, dan di bawahnya ada keterangan tulisan. Jadi lebih muda dimengerti. Pada brosur gambar bukan sekadar “pemanis” tapi juga merupakan bagian dari pesan itu sendiri, atau untuk memperkuat pesan yang ditulis.

4.  Warna yang dipakai

Brosur sebaiknya dibuat dalam warna yang lebih cerah dan mencolok. Warna memang terkait selera. Tetapi brosur yang berwarna (kertas, tulisan dan gambar) cenderung lebih menarik minat disbanding brosur yang polos  atau bahkan dalam bentuk potokopi.

5.  Penyebaran brosur

Brosur dibagikan pada saat ada pertemuan. Brosur perlu dibaca oleh sebanyak mungkin masyarakat di lokasi program, khususnya masyarakat yang terlibat langsung dalam program tersebut. Untuk itu brosur  perlu dicetak dan didistribusikan ke lokasi program dalam jumlah cukup banyak.

6.   Isi brosur

Penjelasan langsung ke    masyarakat  mengenai  isi  brosur masih   dianggap hal

yang    penting  dilakukan.  Brosur  perlu  dijelaskan lagi agar   masyarakat  mengerti…” (Kusuma, 2003:29).

Sobri (2005:55) juga mengemukakan bahwa penerbitan brosur  selalu berisikan keterangan singkat dan mencakup secara keseluruhan, maka isi dari brosur secara sistematisnya terdiri dari :  1) Nama organisasi perusahan dan alamat penerbitan brosur, 2) sejarah singkat organisasi /perusahaan, 3) unit-unit layanan yang dimiliki, 4) daftar koleksi yang dilayankan/produk yang dihasilkan, 5) personalia, 6) produk publikasi yang diterbitkan, 7) bila organisasi tersebut menyediakan layanan public, muat juga jam layanan, persyaratan untik menjadi anggota dan tatatertib.

Sehubungan dengan hal tersebut, maka perkembangan suatu perpustakaan  saat ini akan semakin  dipengaruhi oleh  perkembangan jaringan  global internet, bahkan tidak bisa  lepas dari perananya sebagai penyedia informasi. Karena  impelemntasi masyarakat  informasi di perpustakaan sudah semakin pesat. Dengan demikian perpustakaan mau tidak mau siap tidak siap  haruis menerima globalisasi informasi tersebut kalau perpustakaan ingin tetap eksis tidak mau ditinggalkan oleh penggunanya (Zilaikha, 2000:1). Selanjutnya tutur beliau perpustakaan juga harus merubah  layanan yang ada kea rah layanan yang  costomer  satispaction oriented yaitu berorientasi kepada kepuasan pengguna.

PENDAPAT-PENDAPAT SEPUTAR  TERBITAN

Sebagaimana Soemanto dalam Halim (2005:51)  menjelaskan bahwa pada pertengahan abad ke-14 Johannes Gutenberg menemukan pencetakan huruf dari bahan metal. Huruf-huruf dari metal itu diletakkan pada lajur sehingga memungkinkan huruf-huruf itu bukan saja berderet rapi, dapat juga diganti. Gutenberg mengembangkan penemuannya dan dapat mencetak buku-buku. Lanjut beliau dewasa ini  kegiatan penerbitan  sudah maju dengan pesat  dengan ditemukannya alat-alat cetak teknologi computer, buku dapat diproduksi ribuan, bahkanjutaan eksemplar. Deangan jaringan dan hubungan yang luas buku dapat tersebar ke seluruh dunia dengan gampang dan cepat. Dari sini sebenarnya  keberadaan penerbitan ditentukan oleh antara lain:  i) jaringan social yang luas, ii) struktur sosial, iii) situasi ekonomi, iv) dan keadaan politik dimana penerbit itu berada.

Dengan demikian penerbitan dapat  mendorong pluralisme kebudayaan dan wawancara yang pada gilirannya menjadi salah satu sumber pengayaan pandangan masyarakat. Sehingga dengan banyaknya penerbitan yang dimanfaatkan oleh masyarakat akan membantu dialogis antar pendapat yang pada akhirnya mengkis absolutisme dalam penilaian suatu pristiwa. Semakin banyak masyarakat mau membaca buku, majalah, atau buku yang diproduksi oleh penerbit sebenarnya sangat membantu menjaga kesehatan mental masyarakat.

Pengelolaan penerbitan, seperti brosur merupakan pekerjaan yang tidak gampang dan mudah dilakukan  karena  semua aspek yang memerlukan pertimbangan sehingga apa yang ingin dicapai dapat diperoleh misalnya misalnya, kualitas penerbitan brosur. Di perpustakaan hingga saat ini masih jarang perpustakaan di Indonesia terutama di perguruan tinggi yang melakukan penerbitan media perpustakaan seperti brosur dan lain-lain. Mengapa demikian? Karena banyak aspek yang diperlukan, misalnya personalia keredaksian atau dewan penyuntingnya, masalah   tatacara pengolahan naskah, mulai dari perwajahan, setting naskah, pemberian warna, dan pemuatan naskah yang  selalu akan  menjadi masalah karena sulitnya menghimpun naskah setiap kali menerbitkan.

Pengelolaan suatu penerbitan di perpustakaan hendaknya dikelola secara serius dan tekun, sebab aktivitas ini memerlukan kemantapan baik dalam keteraturan kala terbitnya, taat azaz terutama dalam format dan bentuk tampilannya dan lain-lain. Penerbitan yang dikelola secara baik dalam berbagai unsur yang berhubungan dengannya, akan memberikan kesan dan perhatian  tertentu bagi pihak lain. Apalagi perpustakaan perguruan tinggi, karena ia sebagai unit penunjang lembaga induk yang menangani pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat yang sekaligus lembaga institusional formal, ilmiah dan sebagai pencetak kader ilmuan dalam berbagai bidang ilmu. Dengan sendirinya unit informasipun akan ikut melaksanakan tugasnya sejalan dengan lembaga induk tersebut.

Adapun salah satu unsur yang menjadikan terbitan tersebut mendapat pengakuan baik dari lembaga  yang mengeluarkan maupun institusi lainnya.

Sejalan dengan itu,  dunia penerbitan terutama penerbitan majalah  sudah sejak tahun 1966 kita sudah mengenal ( Junaedhie , 1995:vii) beberapa majalah. Jumlahnya terbatas, demikian pula variasi isinya. Sejak tahun 70an jumlah dan variasi majalah bertambah. Perkembangan apa yang terjadi waktu?.  Dimana masyarakat lebih terbuka  dari kurun waktu sebelumnya  Pintu dan jendela dibuka  Cakrawala lebih luas. Perkenalan dengan dunia lain, terutamka negara-negara industri barat bertambah akrab. Perkenalan lewat  media elektronika  membawa masuk arus kesenian popular yang lewat  panggung medias massa menjadi kesenian massa.

Lebih lanjut uraian beliau, bahwa  perkembangan dua majalah  tidak terbatas  pada segi edotrialnya. Tata wajah, mutu cetak dan kekyaan warna menyertainya.

Dengan demikian, dapat penulis asumsikan bahwa masalah penerbitan seperti majalah dan sejenisnya termasuklah penerbitan brosur-brosur baik lingkungan lembaga swasta maupun lingkungan instansi pemerintahan lainnya,  penerbitan merupakan  suatu aktivitas yang bersifat positif dan produktif. Karena media seperti  ini dapat dijadikan forum komunikasi,  saran dan kritik yang bersifat membangun guna perbaikan kualitas penerbitan itu sendiri.  Jika dipandang dari sudut  sosialmasyarakat maka media cetak ini sangat berpengaruh terhadap kehidupan  masyarakat karena  berbagai berita  dan tulisan yang  terdapat di media cetak  secara langsung atau tidak langsung ikut mempengaruhi bangunan relasi  sosial antar anggota masyarakat.

PROMOSI PERPUSTAKAAN MELALUI  MEDIA

1. Media   Cetak

Promosi perpustakaan yang bersifat tradisional masa lalu, diantaranya melalui pameran-pameran buku, seminar, pertemuan, ceramah, diklat,  pelatihan-pelatihan, terbitan-terbitan, seperti indeks artikel, daftar tambahan koleksi dan lain-lain.  Pada saat inipun  aktivitas tersebut masih saja dimanfaatkan oleh  sebagian besar  perpustakaan di Indonesia.

Menurut ungkapan  Warto (1998:31) bahwa  mereka yang sering  membaca koran dan majalah adalah mereka yang secara sosial mempunyai latarbelakang pendidikan cukup baik. Jadi dapat dikatakan  bahwa media cetak lebih banyak dimanfaatkan oleh kalangan menengah  ke atas baik secara social maupun ekonomi, harian suara merdeka misalnya,  banyak dibaca oleh kalangan guru/pengajar, pegawai kantor dan golongan professional lainnya. Sementara itu penduduk lainnya kurang berminat membaca Koran/majalah. Nampaknya lanjut beliau, hal ini berkaitan dengan  tingkat melek huruf dan budaya baca masyarakat yang bersangkutan. Mereka yang berstatus ekonomi dan sosial yang cukup  baik, maka buku lebih banyak dibaca oleh para pelajar, mahasiswa dan pengajar.

Dari uraian di atas, dapat diambil suatu interpretasi sederhana bahwa media cetak tidak dapat ditinggal sekalipun telah bermunculan media elektronis saat ini.  Walaupun ada  banyak perbedaannya  baik cara terbit, prekuensi dan sifat serta materi yang disajikan. Karena semua kalangan mulai dari bawahan hingga tingkat atas dapat menikmatinya.

2. Media elektronis

Pada hal bagi perpustakaan yang telah maju terutama perpustakaan perguruan tinggi dituntut kemampuannya untuk memulai memanfaatkan   teknologi informasi dalam semua program kegiatannya. Karena perguruan tinggi merupakan lembaga ilmiah yang menghasilkan sumber daya manusia intelektual yang diharapkan berpotensi padat dengan ilmu  pengetahuan di bidangnya.  Selain itu  dilengkapi pula dengan kemampuan dan penguasaan ilmu dan teknologi informasi yang menjadi tuntutan dan dambaan dunia globalisasi  informasi dewasa ini.  Sebagai contoh salah satu perpustakaan perguruan tinggi negeri di Indonesia yang telah mempergunakannya adalah perpustakaan UGM (Suciati, 2000:16).

Pada dasarnya semua media baik elektronis maupun  cetak masing-masing terdapat kelebihan dan kekurangan masing-masing. Seperti dikatakan  Veven SP Wardana (1979) dalam  Chakim (2003:4) bahwa  media cetak kelemahannya adalah penerbitannya dibatasi oleh siklus 24 jam sekali, dibaca sebatas yang melek huruf, selain gambar dalam media cetak cenderung statis. Sementara penerbitan berita lewat siaran televisi tidak dibatasi semata oleh sore hari atau pagi hari. Berita-berita di televisi bahkan bias terbit lebih dari satu kali 24 jam.

3.  Konsumen media

Sebagaimana diketahui bahwa  banyak ragam media yang telah dipergunakan oleh berbagai lembaga atau institusi pemerintah dan swasta atau individu dimana pun berada,  yang menggunakan  aneka ragam bentuk dan macamnya,  baik itu  persi  cetak maupun elektronis.  Konsumen informasi dewasa ini telah melek informasi sehingga pandai dan mampu memilah dari berbagai sisi tentang masing-masing  media tersebut. Sebagaimana data riset survey Indonesia (RSI) hanya 2,5% penduduk Indonesia membaca surat kabar. Angka itu akan terus berkurang dari waktu ke waktu karena para pembaca surat kabar beralih ke cybermedia (Leksono, 2007 dalam Subayo: 2008:6)  Walaupun Bell (2001) dalam Subayo (2008:6) mencatat, tak setiap orang mampu mengubah kebiasan membaca (juga menulis) teks dari semula di kertas menjadi di layer. Bell  lanjut menyatakan bahwa cybercultures (budaya maya) menuntut berbagai prilaku akibat terbentuknya cybercommunity (komunitas maya).

ISSN SEBAGAI IDENTITAS   PENTING  UNTUK TERBITAN BERSERI

ISSN adalah singkatan dari Internasional Serial Standar Number yang memberikan identitas berupa  nomor standar untuk  suatu terbitan serial. Terbitan serial yang berkualifasi atau terakredasi  salah satunya ditandai dengan adanya nomor  ISSN.

Suatu terbitan berseri apabila telah memberikan contoh penerbitan perdananya saat memproses untuk mendapatkan  ISSN ke PDII-LIPI Jakarta  maka terbitan yang selanjutnya  akan tercatat  di lembaga tersebut.  Sedangkan untuk terbitan buku kita kenal dengan nomor  ISBN yaitu Internasional Standar Book Number juga akan terdaftar di lembaga penerbit dimana ia diterbitkan.

Beberapa aspek terkait ISSN dapat disimak berikut ini.

1. ISSN  dan  Aspek  Penting yang dimilikinya

Bagi suatu terbitan baik Jurnal, Majalah, Buletin dan berbagai terbitan  lainnya sangat penting untuk memiliki nomor ISSN (Internasional Serial Standard Number), karena suatu terbitan tanpa adanya nomor tersebut tidak dapat pengakuan dari suatu isntansi.  Apalagi dalam hubungannya dengan penghargaan untuk suatu karya tulis, baik berupa naskah tulisan ide atau gagasan sendiri  atau penelitian ilmiah yang diterbitkan dalam terbitan tersebut tidak dapat diakui berdasarkan dengan  aturan intern suatu instansi atau  berdasarkan SK Menpan 132/2002.   Apalagi keperluan nasional, misalnya  terbitan berkala seperti majalah atau jurnal agar mendapat nilai  akredatasi tingkat perguturuan tinggi, maka persyaratan akredatasi terbitan hendaknya  dikelola dengan susunan redaksi terdiri pihak sendiri ditambah pihak luar setidak-tidaknya 3 perpustakan perguruan tingi negeri lainnya yang dikutsertakan dalam susunan redaksi atau dewan penyuntingnya.

Jadi untuk kepentingan kualifikasi terbitan agar naskahnya diakui dalam pemenuhan angka kredit fungsional  pustakawan, hendaknya naskah dimuat dalam terbitan berseri yang memiliki ISSN. Dan yang lebih tinggi lagi kualifikasi nilai terbitan memiliki dewan redaksi mitra bastari dimana komposisi dewan redaksi atau penyuntingnya terdiri pustakawan di lingkungnan sendiri dan ditambah dari  pustakawan di perpustakaan luar  propinsi seperti,  USU, UNILA, ITB, IPB dan lain-lain.

Menurut Podo, Hadi dan Sulliva, JosephJ. (1999:1081) redaksi  adalah bunyi kalimat  atau pernyataan (editorial staf = staf redaksi). Sementara redaktur adalah editornya. Sebab keredaksian dalam terbitan berseri dan ISSN merupakan aspek yang menentukan  dalam peningkatan status yaitu pengakreditasian belum lagi aspek yang lainnya diharapkan  menjadi bahan kelengkapannya.

2.  Cara  Untuk  Memperoleh  ISSN

ISSN untuk di Indonesia berpusat PDII-LIPI di Jl. Jenderal Gatot Subroto  Telp.021-5250719 Jakarta.  Penerbitan yang sudah maju  jelas memiliki nomor ISSN, karena  nomor tersebut merupakan salah satu  cerminan kualitas dari terbitan dimaksud. Saat ini untuk mendapatkan ISSN mungkin sudah agak repot, tidak mudah seperti tahun delapan puluan, karena waktu itu tidak ada biaya dan walaupun ada masih sangat relative kecil. Setelah itu hingga saat ini, mungkin sudah memiliki uang administrasi yang cukup besar.

Lalu bagaimanakah  cara untuk mendapatkan ISSN guna keperluan intensitas suatu terbitan. Dalam Email PDII-LIPI melaluiu internet bahwa syarat untuk mendapatkan ISSN dengan cara :

  1. Membuat surat permohonan
  2. Mengirim 2 eksemplar terbitan terakhir apabila sudah diterbitkan, 2 lembar kopian halaman muka (sampul depan) majalah yang akan terbit lengkap dengan penulisan volume, nomor, dan tahun terbit dalam angka arab.
  3. 1 lembar potokopi daftar isi
  4. 1 lembar potokopi dewan redaksi
  5. Mengisi formolir bibliografi majalah dan formolir evaluasi yang disediakan PDII-LIPI, kemudian dikirim kembali melalui email.
  6. Membayar biaya administrasi Rp. 200.000.- ke rekening PDII-LIPI No. Account:070-0000089198 Bank mandiri Cabang Graha Citra caraka Kantor Telkom Pusat Jl. Jendral Gatot Subroto Jakarta.

PENUTUP

Dari uraian terebut dapat disimpulkan bahwa brosur merupakan salah satu media praktis yang menggunakan huruf dan tulisan yang mudah dibaca, bahasanya yang mudah dipahami, dan gambar dengan tampilan yang menarik si pembacanya. Disamping itu, warnapun penting untuk mengikuti selera, dan isi atau pesan pada brosur hendaknya dijelaskan kepada masyarakat, kemudian dalam menyebarkannya hendaknya sebanyak mungkin.  Penyebaran brosur secara langsung dibagikan saat pertemuan, namun kurang mendapat perhatian, biasanya  diantara peserta pertemuan ada yang dijadikan kipas karena suasana panas, ada juga yang dilipat-lipat setelah selesai pertemuan ditinggal sehingga jumlah yang dibagikan sama dengan yang dipungut lagi (karena dibuang). Untuk mengurangi hal tersebut, mungkin brosur dibagikan lalu diberi penjelasan secara rinci dari tiap bagiannya,  diberi kesempatan untuk bertanya atau pancing tanggapan atas isi atau tampilan brosur yang dibuat maupun isi yang terkait. Sedangkan  brosur yang dibuat dalam bentuk elektronis, maka  teknik penyebarannya jelas berbeda dengan yang manual, karena sifatnya terbuka luas  dan bebas diakses dimana saja dan kapan saja bagi siapa yang memerlukannya. Seperti di Perpustakaan UGM telah banyak dimuat aneka produk perpustakaan melalui jaringan internet melalui situs web homepage perpustakaan.

Dari itu kalau kita cermati informasi dalam homepage perpustakaan memiliki informasi yang agak  identik dengan informasi yang dimuat dalam  brosur yang bersifat lembar lepas yang biasanya kita gunakan saat promosi kegiatan untuk pendidikan pemakai, orientasi pengenalan perpustakan saat mahasiswa baru setiap tahun akademik.

REFERENSI

Chakim. (2003).  Peran perpustakaan di era informasi. Media Informasi, 13(13) : 1-6.

Junaedhi,  Kurniawan. (1995).  Rahasia dapur majalah di Indonesia. Jakarta : Gramedia.

Kamus Besar Bahasa Indonesia. (2001). Jakarta : PN Balai Pustaka.

Kusuma, Candra. (2007). Mari belajar dari ahlinya. Jakarta : Yayasan Pradipta Paramitha.

Podo, Hadi dan Sullivan Joseph J. (1999).  Kamus ungkapan Indonesia – Inggris. Jakarta : PT Gramedia Utama.

Prianggoadisuryo, Luwarsi. (1995). Kerjasam jaringan perpustakaan dan akses informasi.: Kumpulan Karya Tulis. Jakarta : PDII-LIPI.

Sobri, Halim (2005). Publikasi dalam menunjang pemasyarakatan perpustakaan. JKDMM 21(1) Januari – Juni : 42-48.

Soemanto, Bakri. (1997). Penerbit dan buku sastra di Indonesia. Yogyakarta : Kanisius.

Subayio,  P Ari. (2008).  Internet, bud abaca baru dan tantangan bagi perpustakaan.  Info. Persada, 6(1) Februari : 2-9.

Suciati, Uminurida. (2000).  Mempromosikan perpustakaan melalui homepage. Media informasi. 13(5) : 14-19.

Sutoyo, Agus. Dan Santoso, Joko  (2001). Strategi dan pemikiran perpustakaan visi Hernandono. Jakarta :  Sagung Seto.

Warto. (1998).  Peranan media massa lokal bagi pembinaan dan pengembangan kebudayaan daerah di Jawa Tengah. Semarang :  IKIP Semarang Press.

www.pdii-lipi.go.id/index.php/issn. 7 Juni 2007

Zulaikha, Sri Rohyanti. (2000).  Eksistensi perpustakaan di era  “Information society “ (Masyarakat Informasi). Media informasi 13(5)  : 1-8.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: