Home » JKDMM » Peran Perpustakaan dan Pustakawan dalam Pelestarian Warisan Budaya Daerah di Bangka Belitung, Oleh Asyraf Suryadin Dosen Universitas Bangka Belitung

Peran Perpustakaan dan Pustakawan dalam Pelestarian Warisan Budaya Daerah di Bangka Belitung, Oleh Asyraf Suryadin Dosen Universitas Bangka Belitung

Kirim SMS Gratis di sini

SMS Gratis
Please upgrade your browser

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 3 other followers

Abstrak

Rendahnya  jumlah pustakawan yang bekerja di perpusakaan se-Bangka Belitung berdampak pada peningkatan minat baca masyarakat. Padahal kehadiran pustakawan dapat membantu dan mengembangkan minat baca dan turut serta mengenalkan budaya daerah.

Salah satu usaha mempercepat jumlah pustakawan dengan mengikutsertakan mereka pada jenjang pendidikan pustakawan, menjadikan pustakawan yang mampu  memahami budaya daerah dimana mereka bertugas. Pemahaman pustakawan terhadap budaya daerah yang sudah berbentuk buku merupakan  usaha menjadikan perpustakaan sebagai tempat pertama yang perlu dikunjungi sebelum mengenal budaya yang sesungguhnya.

Adanya buku-buku tentang budaya dan informasi terhadap  potensi daerah di perpustakaan serta ditunjang oleh pestakawan yang profesional maka akan mempengaruhi sikap membaca masyarakat.

Kata kunci:  Perpustakaan,  pustakawan,  dan  budaya daerah

PENDAHULUAN

Hampir sebagian masyarakat Indonesia mengenal novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Novel yang banyak dibaca dan mempengaruhi para pendidik ini telah memacu minat baca masyarakat dan sekaligus mengenal budaya daerah di Pulau Belitung yang selama ini hanya dikenal dengan timahnya saja. Masalah  minat baca tak lepas dari kesediaan buku di perpustakaan dan tentunya pustakawannya juga.

Apa jadinya bila suatu daerah tak memiliki perpustakaan dan pustakawan?  Serta apa jadinya pula jika suatu daerah tak memiliki warisan budaya?  Mungkin ini yang harus menjadi pemikiran kita bersama berkenaan dengan permasalahan seperti terungkap pada judul di atas. Bangsa Indonesia memiliki banyak pulau dan membentang dari ujung barat Sumatera hingga timur Papua. Apabila dibentangkan kepulauan Indonesia di benua Eropa maka dapat menutup negara yang ada di benua itu satu-persatu.  Dari pulau-pulau tersebut terdapat keanekaragaman suku dan budayanya termasuk juga budaya yang ada di Bangka Belitung.

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2000 dan baru  memiliki Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah  pada tahun 2008 berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Nomor 7 Tahun 2008. Kehadiran perpustakaan provinsi setelah hampir delapan tahun berdirinya Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Walaupun demikian tiga perpustakaan telah ada di tingkat kabupaten/kota karena keberadaannya merupakan bagian dari Provinsi Sumatera Selatan waktu itu. Saat ini, perpustakaan di tingkat kabupaten/kota sudah terbentuk setingkat Kantor Perpustakaan. Jadi, Bangka Belitung telah memiliki perpustakaan disetiap kabupaten/kota yang saat ini  memiliki enam kabupaten dan satu kota.

Lalu bagaimana dengan perpustakaan sekolah? Lebih memprihatinkan! Kebanyakan perpustakaan sekolah tidak memiliki gedung permanen dan kebanyakan ruang kelas dijadikan perpustakaan. Tidak hanya itu, perpustakaan hanya dijaga oleh guru yang dibuka saat waktu istirahat saja. Minimnya buku dan kurang teraturnya sistem pengelolaan buku membuat perpustakaan kurang diminati untuk didatangi, ditambah lagi dari waktu ke waktu buku-buku diperpustakaan  tersebut tidak juga bertambah.

Cerita duka tentang perpustakaan pun sama seperti yang diceritakan oleh Arif Surachman seorang pustakawan dari UGM. Dalam perjalannya di Bima NTB, ia menyempatkan diri untuk melihat-lihat perpustakaan di sana.  Sayang pencarian itu sedikit berakhir dengan kegalauan. Hal ini karena yang ditemukan ruang “kelas” yang dipenuhi dengan buku-buku berserakan hampir menutupi seluruh ruangan.  Arif lalu bertanya langsung ke guru. Guru memberikan informasi bahwa perpustakaan itu lama terbengkalai karena beberapa hal yakni: tidak ada tenaga perpustakaan yang mengurusinya, kurangnya perhatian dari pimpinan sekolah, kurangnya perhatian pemerintah setempat terhadap kondisi perpustakaan di sekolah, ketiadaan dana pengelolaan dan sebagainya. Sebuah “alasan klasik” yang banyak ditemukan di Indonesia.

Adanya lembaga dan rendahnya ketersediaan  buku bacaan diperpustakaan yang baru dibentuk akan menjadi permasalahan perpustakaan di Bangka Belitung. Jadi, bagaimanakah membentuk perpustakaan dan pustakawan yang mampu melestarikan budaya daerah?

PERPUSTAKAAN DAN PUSTAKAWAN :

Hari ini dan yang akan datang di Bangka Belitung

  1. 1. Minimnya Pustakawan

Pustakawan di Bangka Belitung terdiri dari satu orang dengan golongan III/d dan pangkat Pustakawan Penyelia. Satu pustakawan itu pun berada di SMA Negeri 1  Sungailiat Kabupaten Bangka dan bukan berlatar pendidikan perpustakaan. Sedangkan yang lainnya bukan pustakawan tetapi hanya pengelola perpustakaan. Akibat minimnya pustakawan  Bangka Belitung tidak dapat diikutsertakan dalam pemilihan pustakawan berprestasi di tingkat nasional.

Memang cukup ironis pustakawan di Bangka Belitung. Rendahnya minat untuk menjadi pustakawan lebih banyak dialasankan pada rendahnya tunjangan fungsional pustakawan dan tidak adanya tunjangan daerah secara khusus yang diperuntukkan bagi pustakawan. Lebih ironis lagi mereka yang dipekerjakan di perpustakaan dianggap para pegawai yang  memiliki “masalah” atau rendahnya kualitas kerja sehingga perlu “diperpustakaankan.”

Akibat kekurangmengertian para pegawai termasuk juga pimpinan terhadap suatu perpustakaan akan berdampak pada pelayanan perpustakaan. Usaha untuk membesarkan perpustakaan menjadi tempat sumber informasi dan peradaban pengetahuan disuatu daerah akan semakin berarti bila disertai dengan kecakapan para pegawai yang bekerja di perpustakaan.

Minimnya pustakawan saat ini di Bangka Belitung memang berpengaruh terhadap pelayanan di perpustakaan. Tak heran jika minat baca para pelajar/mahasiswa rendah karena kurangnya kemampuan pustakawan menyediakan bahan pustaka atau perpustakaan tak ubahnya seperti gudang buku karena kurang terawat dan berdebu.

Apabila memperhatikan jumlah sekolah yang ada di Bangka Belitung seharusnya setiap sekolah memiliki minimal satu orang pustakawan dengan dibantu oleh beberapa orang pengelolah perpustakaan. Kenyataannya tidak! Perpustakaan hanya dikelola setengah hati. Jumlah sekolah di Bangka Belitung seperti pada tabel 1 berikut ini.

Tabel 1

Jumlah SD/MI, SMP/MTs., SMA/MA/SMK di Bangka Belitung

No. Kabupaten/Kota Jenjang Sekolah Jumlah
TK SD/MI SMP/MTs. SMA/SMK/MA
1 Bangka 47 183 49 31 310
2 Bangka Barat 18 131 34 19 202
3 Bangka Tengah 26 94 27 11 158
4 Bangka Selatan 21 86 28 14 149
5 Belitung 30 126 30 18 204
6 Belitung Timur 10 106 22 11 149
7 Pangkalpinang 32 83 24 22 161
184 809 214 126 1333 (Babel)

Sumber: Kepulauan Bangka Belitung dalam Angka 2007/2008

Memperhatikan tabel 1, keberadaan sekolah se-Bangka Belitung berjumlah 1333 sekolah dengan berbagai tingkatan. Jumlah tersebut belum termasuk perpustakaan perguruan tinggi, kantor, badan, dan instasi lain yang memiliki perpustakaan. Apabila setiap sekolah membutuhkan satu pustakawan saja maka akan dibutuhkan  1333 pustakawan atau lebih untuk ditempatkan di sekolah dan lembaga lain di Bangka Belitung.

  1. 2. Usaha-usaha untuk mencetak pustakawan

Pustakawan  merupakan motor dalam pelayanan perpustakaan.  Untuk perpustakaan di tingkat provinsi jumlah pustakawan yang ada berdasarkan kualifikasi ijazah strata 1 perpustakaan berjumlah tiga orang dan berstatus CPNS, sedangkan PNS kualifikasi DIII sebanyak satu orang. Serta dibantu juga oleh masing-masing tenaga honorer sebanyak satu orang kualifikasi S1 dan DIII progran studi perpustakaan.

Jumlah tersebut masih dianggap kurang sebagai perpustakaan baru di tingkat provinsi. Lalu bagaimana usaha memperbanyak pustakawan agar terpenuhi pustakawan baik ditingkat provinsi, kabupaten/kota, dan sekolah?

Langkah awal mendidik calon pustakawan melalui bimbingan teknis yang biasanya sering dilakukan oleh Perpustakaan Nasional. Tidak hanya itu, mengharapkan adanya perguruan tinggi yang membuka program studi perpustakaan. Salah satu perguruan tinggi yang membuka program tersebut diantaranya Universitas Terbuka. Berdasarkan data Universitas Terbuka jumlah mahasiswa yang mengikuti DII program studi perpustakaan di Bangka Belitung seperti pada tabel berikut ini:

Tabel 2

Daftar Mahasiswa Universitas Terbuka, UPBJJ Pangkalpinang Program Studi DII Perpustakaan di Bangka Belitung

No. Kabupaten/Kota Jumlah Mahasiswa Keterangan
1 Bangka 243
2 Bangka Barat 218
3 Bangka Tengah 427
4 Bangka Selatan 253
5 Belitung 155
6 Belitung Timur 53
7 Pangkalpinang 116
Jumlah 1465 Jumlah se-Bangka Belitung

Sumber: UT, UPBJJ Pangkalpinang, 11 September 2009

Memperhatikan jumlah mahasiswa yang dididik oleh Universitas Terbuka serta hasil didikan dari perguruan tinggi lain diharapkan kekurangan pustakawan yang ada dapat diatasi untuk beberapa tahun ke depan. Dengan catatan alumi DII perpustakaan tersebut dapat diserap oleh tenaga kerja dalam bidang perpustakaan. Pertanyaan kita mungkinkah DII perpustakaan alumi UT tersebut diberi peluang? Mungkin untuk sementara menggunakan istilah tak ada rotan akarpun jadi demi kemajuan pendidikan dan minat baca dalam usaha mempertahankan identitas budaya  bangsa.

PUSTAKAWAN DAN PELESTARIAN BUDAYA BANGSA

Selama ini kita hanya mengetahui pustakawan merupakan Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan kegiatan kepustakawanan pada unit-unit perpustakaan, dokumentasi dan informasi (perpusdokinfo) di instansi pemerintah dan atau unit tertentu lainnya.

Pekerjaan kepustakawanan adalah kegiatan utama dalam lingkungan unit perpusdokinfo yang meliputi kegiatan pengadaan, pengolahan, dan pengelolaan bahan pustaka/sumber informasi, pendayagunaan dan pemasyarakatan informasi, baik dalam bentuk karya cetak, karya rekam, maupun multi media, serta kegiatan pengkajian atau kegiatan lain untuk mengembangkan perpusdokinfo, termasuk pengembangan profesi (Perpusnas RI, 2008: 2-3).

Berdasarkan tugas yang diamanatkan kepada pustakawan, maka pustakawan memiliki peran dalam pelestarian budaya bangsa sehingga dapat membantu dalam meningkatkan budaya yang ada menjadi kebudayaan Indonesia. Kebudayaan Indonesia menurut Pamplet Kominfo adalah keragaman budaya daerah di Indonesia meliputi seni budaya, seni tari, seni suara, rumah adat, pakaian adat, upacara adat daerah, keindahan alam, aneka satwa, dan sumber daya alam yang potensial serta wilayah yang strategis.

Apabila unsur-unsur budaya tersebut disusun dalam bentuk buku, maka pustakawan memiliki kewajiban untuk menyampaikan kepada pengunjung dan mempromosikannya agar setiap orang mengetahui budaya daerah, nasional, dan akhirnya budaya Indonesia.  Berikut ini, perlunya upaya konkret dalam mewujudkan buku-buku lokal dan bila dimungkinkan dapat diterbitkan oleh perpustakaan di daerah dan provinsi melalui dana pusat.

  1. 1. Penerbitan buku-buku lokal tentang potensi daerah

Diawal tahun 2009, penulis didatangi dua orang rekan dari Riau. Kedua rekan tersebut ditugaskan oleh lembaganya mencari buku-buku yang menceritakan atau berisi tentang kearifan lokal yang berwawasan lingkungan. Buku yang dicari tersebut dapat berbentuk fiksi maupun nonfiksi. Sayang! Buku yang dimaksud belum pernah diterbitkan di Bangka Belitung.

Berdasarkan pemikiran yang dicetuskan rekan dari Riau tersebut akhirnya penulis memberanikan diri mengumpulkan cerita rakyat Bangka Belitung yang berisi tentang cerita-cerita kearifan lokal dan kemudian diterbitkan oleh penerbit Hikayat Yogyakarta dengan judul Putri Kayu Pelawan. Dalam buku tersebut  terdapat sepuluh cerita rakyat yang bernuasa kearifan lokal. Dalam cerita rakyat  Putri Kayu Pelawan menceritakan pertualangan  seorang putri dan asal muasal kayu pelawan selengkapnya cerita rakyat tersebut sebagai berikut:

Pada zaman dahulu kala, ada seorang laki-laki yang mempunyai kebiasaan aneh. Setiap bulan dia justru mengalami menstruasi atau haid seperti layaknya perempuan dewasa. Karena malu, dengan sembunyi-sembunyi, setiap kali kedatangan haid tersebut lalu diusapkan ke batang pohon yang tumbuh di tepi hutan.

Diperlakukan seperti itu, sebenarnya pohon tersebut juga sakit hati, dan marah.  Kadang  sampai ingin berontak, atau lari menjauhi laki-laki itu. Tetapi, hasilnya sia-sia. Dirinya tidak mampu berbuat banyak, dan hanya bisa meratapi nasibnya yang buruk. Bertahun-tahun yang dapat dilakukan hanyalah bersabar, menahan penderitaannya dengan tabah.

Pada suatu hari, ketika kesedihannya memuncak, datang seorang putri kahyangan yang sangat  cantik, ramah, dan baik hati. Sambil membelai cabang ranting pohon tersebut, ia bertanya dengan lembut. Suaranya terdengar  merdu, namun penuh haru. ”Apakah gerangan yang terjadi sehingga engkau bersedih, wahai pohon kayu?”

Pohon itu pun menjawab apa adanya dengan jujur ”Begini, wahai Putri Kahyangan yang baik. Saya benar-benar merasa terhina oleh perbuatan aneh dan jorok seorang laki-laki. Setiap bulan dia mengusapkan kotoran yang membuat kulitku memerah dan meninggalkan bau busuk. Aku jadi malu pada pohon-pohon lain di hutan ini. Tolonglah aku dari penderitaan dan cobaan ini, Putri.”

Mendengar pengakuannya, Putri Kahyangan merasa iba dan kasihan terhadap penderitaan yang dialami pohon itu. Sejenak kemudian, Sang Putri berkata: ”Baiklah, pohon kayu. Aku akan membantu melepaskan penderitaanmu.  Aku akan meneteskan air mataku yang manis padamu agar pohonmu memiliki  kelebihan dari pohon-pohon lain.  Seluruh kulitmu akan berwarna kemerahan. Batangmu akan jadi keras, kuat, berguna untuk kayu bakar dan junjung.1 Bungamu akan jadi harum, manis, dan berguna sebagai obat. Sejak hari ini aku namakan engkau pohon perlawanan.”

Mendengar kata-kata putri kahyangan, pohon itu sangat bersuka cita. Apalagi setelah mendapat tetesan air mata sang putri dirinya akan menjadi pohon kayu yang perkasa dan bermanfaat kelak kemudian hari. Walaupun sudah diberikan banyak kelebihan, namun dalam sejarahnya pohon perlawanan tidak pernah sombong terhadap pohon yang lain.

Lama kelamaan kata pohon perlawanan berubah menjadi pohon pelawan hingga sekarang. Masyarakat pun lebih mengenalnya dengan nama pohon pelawan daripada pohon perlawanan. Pohon ini masih banyak tumbuh di hutan Bangka Belitung. Salah satu ciri pohon pelawan, lebah yang menghisap bunganya  akan menghasilkan madu pahit yang banyak dijadikan obat.

Di Bangka Belitung istilah kayu pelawan sangat akrab dengan masyarakat karena dimanfaatkan untuk kayu bakar dan lebih bermanfaat lagi karena bunganya dihisap oleh lebah dan menghasilkan madu pahit yang sangat dikenal di Bangka Belitung karena khasiatnya.  Madu pahit tersebut banyak dimanfaatkan oleh penduduk dan sekaligus dijadikan oleh-oleh buat yang melancong ke Bangka Belitung.

Cerita rakyat yang lain seperti Putri Gunung Kelumpang ke Air Limau dan Sang Benyawe sampai Tanjung Penyusuk. Kedua cerita rakyat tersebut diterbitkan Dewan Kesenian Bangka.

Selain itu, penerbitan buku-buku beraroma potensi daerah yang perlu digiatkan diantaranya buku-buku tentang petunjuk wisata serta buku-buku yang memiliki daya dukung wisata lokal dan nasional. Beberapa buku yang dapat memacu diterbitkannya diantaranya buku tentang rumah ibadah yang memiliki nilai-nilai sejarah dan faktor keunikan yang ada pada rumah ibadah tersebut.

Sebagai contoh, menerbitkan  buku tentang Masjid dan Tradisi Nganggung. Banyaknyanya penduduk etnis Cina di Bangka Belitung dapat diterbitkan buku tentang Kelenteng Cina, Barongsai, dan Ritual Ceng Beng dan banyak lagi buku lain yang dapat mendukung dalam usaha mengembang pelestarian budaya.

Semua orang tahu pulau Bangka salah satu tempat pengasingan para pimpinan bangsa diantaranya Bung Karno, Bung Hatta dan kawan-kawan. Sayang, buku tentang para pemimpin yang diasingkan  oleh Belanda tersebut tidak begitu banyak ditulis. Kalaupun ada hanya beberapa buku diantaranya Muntok dari Wan Akub hingga Bung Karno yang disusun oleh Asyraf Suryadin terbitan  CV Mughni Sejahtera Bandung,  buku Barin, Amir, Tikal Pahlawan Nasional yang Tak Boleh Dilupakan karya AA Bakar terbitan Yayasan Pendidikan Rakyat Bangka, buku Palagan 12 Api Juang Rakyat Bangka yang disusun oleh Ichsan Monoginta Dasin dan Dody Hendriyanto, buku Sejarah Perjuangan Kemerdekaan RI di Bangka Belitung disusun oleh Husnial Husin Abdullah.  Untuk buku Muntok dari Wan Akub hingga Bung Karno banyak ditemui di perpustakaan SMA/SMK karena dibagikan secara cuma-cuma oleh Pusat Perbukuan, tetapi untuk perpustakaan kabupaten/kota tidak ditemui.

Rendahnya penulisan  buku-buku tentang sejarah di Bangka Belitung akan berpengaruh terhadap pengenalan daerah dan kontribusi Bangka Belitung dalam mempercepat kemerdekaan waktu itu.

Wujud potensi daerah yang lain dapat berupa buku-buku yang menceritakan peninggalan sejarah seperti bangunan peninggalan penjajahan Belanda  dan bangunan tua lainnya, misalnya Museum Timah  dan Wisma Menumbing.  Ada juga Perigi (sumur) Pekasem, perigi ini dijadikan tempat untuk membuang mayat orang-orang yang diburu TKR (Tentara Keamanan Rakyat) karena dianggap musuh atau sebagai mata-mata Belanda dan Sekutu.

Buku tentang keindahan pantai di Bangka Belitung lebih menarik dan asri lagi kalau diterbitkan apalagi dihubungkan dengan legenda yang ada. Buku-buku yang berisi tentang promosi pantai memang belum banyak tersedia juga di perpustakaan. Perlu pemikiran ke depan agar perpustakaan dapat dijadikan tempat promosi wisata yang diperankan oleh pustakawan dengan cara memperbanyak buku yang dapat membantu para wisatawan mengenal potensi daerah.

  1. 2. Penerbitan buku-buku tentang budaya daerah

Tidak hanya buku-buku tentang kearifan lokal, sejarah dan peninggalan sejarah  yang diterbitkan, tetapi diharapkan juga segala macam buku tentang budaya perlu juga ditulis sehingga  dapat menjadi aset budaya. Sebelum mengenal secara nyata tentang suatu budaya, sebaiknya pustakawan mengenal dan mempromosikan buku-buku tersebut ke perpustakaan lain sehingga dapat dibaca dan diketahui dengan baik.

Buku-buku budaya tak kalah menariknya bila ditempatkan pada perpustakaan baik perpustakaan sekolah dan  perpustakaan umum. Sektor budaya perlu dibukukan dan ditempatkan di perpustakaan. Banyak budaya daerah yang dapat dibukukan, diantaranya  Adat Mandi Berlimau, Buang Jung, Perang Ketupat, budaya Cen Beng dan Sembayang Kubur bagi masyarakat enis Cina, dan banyak lagi budaya lainnya. Tidak hanya dibukukan, kalau memungkinkan dibuat juga dalam bentuk CD sehingga lebih dinikmati oleh para pengunjung perpustakaan.

Dalam bidang budaya sastra bayak juga ditemui karya sastra yang ditulis oleh pengarang dari Bangka Belitung. Bahkan walikota dan gubernur turut meramaikan apresiasi sastra di Bangka Belitung. Salah satu contoh karya  Eko Maulana Ali (Gubernur Bangka Belitung) yang cukup monumental adalah “Gurindam Abad 21: Berkelana di Padang Fana.” Jadi, selain mengenal Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji dari tanah Melayu Riau, kita mengenal juga gurindam dari Bangka Belitung. Selain itu ada juga karya sastra yang berjudul  “Gurindam 10” karya Roetam Robain dari Bangka Belitung dan kedua gurindam tersebut sudah dibukukan.

Buku-buku yang diterbitkan tentang potensi, sastra, dan budaya daerah tersebut selanjutnya di letakkan dalam satu ruangan khusus yang dibuat dalam bentuk suasana daerah di Bangka Belitung. Ruangan yang terletak dalam satuan perpustakaan tersebut diberi nama ruangan Laskar Pelangi atau ruangan Kehilangan Mestika karya Hamidah, sekaligus mengenang dua pengarang novel yang berasal dari Bangka Belitung. Kemudian,  ruangan  tersebut dijaga oleh pustakawan yang menggunakan pakaian adat Melayu Bangka.  Pustakawan tersebut tidak hanya pandai menjaga tetapi dapat juga memahami filosofis tentang budaya daerah sehingga para peminjam buku baik yang berasal dari daerah sendiri maupun dari luar Bangka Belitung dapat mengenal dengan baik.

Selain menerbitkan buku tentang potensi daerah dan budaya, perlu juga para pustakawan tersebut untuk melacak buku-buku yang berisi tentang budaya daerah Bangka Belitung yang masih berada di perpustakaan lain baik di dalam negeri maupun luar negeri terutama negeri Belanda yang pernah mencengkram kukunya di Bangka Belitung. Sepengetahuan penulis banyak buku yang berisi tentang budaya Bangka Belitung di negeri Belanda. Salah satunya buku tentang Cerita Bangka, Het verhaal van Bangka, karya E.P. Wieringa.

PENUTUP

Keanekaragaman budaya yang diketahui melalui pustakawan yang bekerja di  perpustakaan  sangat membantu menanamkan sikap cinta terhadap budaya lokal dan nasional. Langkah awal mengenal budaya melalui perpustakaan akan berdampak pada keinginan untuk menyaksikan dan melihat lebih dekat wujud dari budaya tersebut. Sehingga dengan mengetahui dan mengagumi setiap aktivitas budaya akan melahirkan rasa cinta terdahap budaya bangsa sendiri dan berusaha semaksimal mungkin untuk melestarikannya agar tidak diakui oleh bangsa lain.

Dengan demikian peran pustakawan sudah sangat jelas, bahwa pustakawan merupakan ujung tombak dalam mengenal budaya bangsa melalui profesi yang ditekuninya. Melalui mereka juga kita mengenal budaya daerah lain sehingga pada konteks ini kehadiran pustakawa merupakan urusan wajib.

Adanya buku-buku tentang budaya dan informasi potensi daerah termasuk buku tentang perjalanan suatu daerah  di perpustakaan  menandakan kita mencintai budaya bangsa, sebaliknya jika tidak ada maka kita kurang peduli terhadap bangsa yang besar ini. Akhirnya antara pustakawan dan pengembangan budaya bangsa merupakan dua sisi mata uang yang saling berpengaruh. Kalau demikian cerita sedih tentang perpustakaan tak akan terjadi lagi. Semoga!

DAFTAR  REFERENSI

Ali, Eko Maulana. (2005). Gurindam Abad 21: Berkelana di Padang Fana. Pangkalpinang: Bangka Pelanduk Publisher.

Badan Pusat Statistik. (2008). Kepulauan Bangka Belitung dalam Angka 2007/2008. Pangkalpinang: BPS.

Perpustakaan Nasional RI. (2008). Peraturan Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2008, tentang Petunjuk Teknis Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka kreditnya. Jakarta: Perpustakaan Nasional.

Surachamn, Arif. (2009). Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007: Peluang dan Tantangan Bagi Pustakawan, Makalah Final Lomba Pustakawan Berprestasi Terbaik Tingkat Provinsi DIY, 29 Juni 2009 di Gedung Kagama, Yogyakarta.

Wieringa, E.P. (1990). Carita Bangka Het verhaal van Bangka. Leiden: Vakgroep Talen en Culturen.


1 Kayu yang digunakan untuk menjalarnya tanaman lada agar tetap tegak/vertikal.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: