Home » JKDMM » Pengajian Ibu-Ibu Sebagai Salah Satu Proses Aplikasi Pendidikan Seumur Hidup Dan Upaya Meningkatkan Budaya Membaca, Oleh Martiana Staf Pengajar Jurusan PLS FKIP Unsri

Pengajian Ibu-Ibu Sebagai Salah Satu Proses Aplikasi Pendidikan Seumur Hidup Dan Upaya Meningkatkan Budaya Membaca, Oleh Martiana Staf Pengajar Jurusan PLS FKIP Unsri

Kirim SMS Gratis di sini

SMS Gratis
Please upgrade your browser

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 3 other followers

Abstrak

Forum pengajian bagi ibu-ibu merupakan   salah satu proses untuk mengaplikasikan pendidikian seumur hidup. Sebagaimana kita ketahui bahwa pendidikan  ada yang berlangsung secara formal seperti disekolah,  ada yang berlangsung secara informal di rumah tangga dan ada juga yang berlangsung di masyarakat yang dapat disebut pendidikan  luar sekolah. Forum yang terakhir ini  tergolong ke dalam pendidikan non-formal, karena sekelompok  ibu-ibu yang mengadakan pengajian apakah secara berkala  mingguan, bulanan atau tiga bulanan sekali. Namun semuanya itu melakukan suatu kegiatan untuk menambah pengetahuan dan pengalamannya, dan proses ini juga disebut  dengan proses pendidikan seumur hidup. Oleh karena itu belajar merupakan salah satu fungsi yang paling penting dalam hidup dan kehidupan manusia. Semua proses  belajar apakah formal, informal maupun non-formal didasarkan pada kemampuan membaca. Walaupun ada yang disebut pembaca pasif yaitu membaca sekedar untuk tahu atau mengisi waktu, dan pembaca aktif`yaitu karena bacaan menjadi mampu untuk mengembangkan intelektual. Melalui forum pengajian ini banyak hal yang dapat ditinjau seperti aspek sosiologis kemasyarakatannya, aspek pembinaan aqidah islam, dan yang tak kalah penting lagi adalah proses peningkatan wawasan pengetahuan  dan  termasuk peningkatan kualits pendidikan serta upaya meningkatkan budaya membaca  ibu-ibu itu sendiri.

Kata Kunci :  Pengajian, pendidikan non-formal, pendidikan seumur hidup

PENDAHULUAN

Pendidikan seumur hidup yang sering kita kenal dengan  ” long life education” memiliki  sifat yang  strategis dan identik dengan nuansa  dari sebuah hadist nabi yang berbunyi:  artinya “tuntutlah ilmu pengetahuan mulai dari ayunan  hingga ke liang lahat atau liang kubur” . Secara konsepsional pendidikan non-formal sifatnya  sangat luas yang tidak terikat oleh waktu dan tempat serta kurikulum atau aturan-aturan formal lainnya. Oleh karena itu, forum pengajian ibu-ibu  dapat dijadikan salah satu lahan pendidikan non-formal untuk  meningkatkan kualitas pendidikan ibu-ibu, sekaligus mengembangkan sifat-sifat  sosial sekaligus sebagai lahan pembinaan aqidah Islam. Dalam kegiatan pengajian ibu-ibu ini biasanya selain berupaya menanamkan serta memantapkan aqidah islam, juga untuk membina kerohanian yang dinamis, subur dan kuat demi pembangunan manusia  seutuhnya. Terkait dengan  forum pengajian ini ada beberapa aspek yang dapat ditelaah  yaitu :  1)  Sosialisasi  aqidah, 2)  Stratifikasi sosial dipandang dari  segi agama islam, 3)  Kelassifikasi sosial dipandang dari aspek ekonomi dan  4) aspek kewajiban menuntut ilmu bagi kaum ibu-ibu.

Barangkali sekalipun telah cukup lama kurunwaktu yang dijalani, namun mungkin masih tetap dapat dijadikan suatu gambaran ke depan dimana forum pengajian ini merupakan aktivitas yang menimbulkan interaksi antar sesama anggota dan pengajar atau ustad yang memberikan berbagai materi dalam rangka pembinaan aqidah Islam serta menumbuhkan kesuburan sikap sosial serta meningkatkan pengetahuan umum dan keagamaan. Berkaitan dengan kebutuhan belajar dan membaca  dalam kegiatan pengajian maka banyak masalah yang dialami yaitu tentang sistem komunikasi dan unsur-unsur yang mempengaruhinya; pengaruhnya pada individu, antar individu atau pada massa. Menurut Pringgoadisuryo (1991) perlu juga dipahami perann komponen-komponen dalam sistemmkomunikasi. Masalah pada zaman sekarang diman alat elektronik sangat merajai komunikasi. Dimana komunikasi lisan masih mendominasi hubungan antar individu dan antar masyarakat. Disini timbul pertanyaan apa sebenarnya  yang menjadi pendorong orang berkomunikasi dan menjadi pendorong orang ” berkomunikasi” melalui bacaan?. Disamping juga perlu dibahas tentang sebenarnya  arti ”belajar” syarat atau kondisi apa yang mendukung orang tetap tetap ”belajar”? Sampai seberapa besar peran bacaan sebagai sumber orang belajar, menambah pengetahuan, memperluas pengalaman dann sebagainya yang begitu sering kita ucapkan?.

Berkaitan juga dengan budaya membaca ini, dalam Kompas 14, 15 dan 16 Januari  1991 (dalam  Pringgoadisuryo, 1991)  dimana berbagai kendala  yang kita alami  dalam usaha meningkatkan  kemampuan berkarya. Dan hendaknya kita mengakui lambannya  pelaksanaan program-program nasional karena pendidikan rakyat yang masih rendah yang tentunya kemampuan  membaca untuk menambahn pengetahuan kurang sekali.  Diharapkan forum pengajian ibu-ibu ini akan dapat dijadikan salah satu fasilitas dalam meningkatkan budaya membaca ibu-ibu.

Tulisan sederhana ini sebagai wacana dan  terkait judul di atas,   diharapkan akan dapat dijadikan suatu proyek penelitian ke depan dalam rangka emansipasi wanita dalam pelaksanan pembanguan di  Nasional dan daerah ke depan.

TINJAUAN LITERATUR

A.  Pengertian-pengertian

1  Pengajian ibu-ibu adalah terdiri dari kata  pengajian dan ibu-ibu

Kata pengajian adalah pengajaran (agama Islam), menanamkan norma agama

melalui pengajian dan dakwah (KBBI, 2001:491)

Kata ibu berarti wanita yang telah  melahirkan seseorang, panggilan yang takzim

kepada wanita baik sudah bersuami maupun yang belum (KBBI, 2001:416)

Dari definisi di atas maka kalimat diatas memberikan pengertian bahwa suatu kelompok atau kumpulan ibu-ibu yang melaksanakan pengajian untuk  mendengarkan pengajaran tentang keagamaan guna menanamkan norma-norma agama. Dan melalui pengajian ini  ibu-ibu dapat diatur tentang pola-pola interaksi antar sesama mereka.

Pengajian ibu-ibu sering diberi nama kelompok pengajian, persatuan pengajian ibu-ibu PKK misalnya, Pengajian alhidayah,  dan berbagai macam penamaan pengajian lainnya.

2. Sosalisasi adalah  proses dimana individu belajar berperan dalam masyarakat.

Selama dalam proses sosialisasi ia akan mempelajari cara bekerja sama

dengan individu lainnya, mengikuti nilai dan norma yang berlaku  dimasyarakat,

dan melaksanakan perannya sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan

(Parwitaningsih (2008:3.23).

Dari pengertian tersebut dapat penulis kemukakan bahwa sosialisasi merupakan suatu proses, dimana seseorang ibu akan melakukan komunikasi yang secara tidak langsung

4.  Stratifikasi sosial,  sebagaimana   dikatakan  Parwitaningsih   (2008:4-20) bahwa stratifikasi sosial  meupakan suatu  konsep dalam  sosiologi   yang bagaimana anggota masyarakat dibedakan  berdasarkan  status yang   dimilikinya. Status yang dimiliki oleh setiap anggota masyarakat ada yang   didapat melalui usaha dan ada juga yang didapat tanpa suatu usaha.  Dan   pendapat lain seperti Pitirin A. Sorokin dalam Parwitaningsih (2008)  mengatakan bahwa stratifikasi sosial adalah pembedaan penduduk atau anggota masyarakat ke dalam kelas-kelas  secara hierarkis. Sedangkan Bruce J Cohen dalam Parwitaningsih menyebutkan bahwa stratifikasi sosial  akan menempatkan  setiap individu pada kelas sosial yang sesuai   berdasarkan kualitas  yang dimiliki. Dalam hubungan dengan forum pengajian ibu-ibu berarti  stratifikasi  sosial ibu-ibu akan mempengaruhi tingkat sosial diantara satu dengan yang lainnya.  Faktor yang menyebabkan  stratifikasi sosial ibu dalam forum pengajian ini akan dapat  timbul  melalui kepandaian, usianya,  sistem kekarabatan, harta dalam batas  tertentu. Pembedaan ini akan cenderung menimbulkan perbedaan para ibu-ibu dalam forum pengajian dimaksud dalam merespon semua informasi yang diperoleh..

5   Kelas sosial, seperti dikatakan  dalam Parwitaningsih (2008:4-27)  merupakan suatu pembedaan individu atau kelompok sosial berdasarkan  kriteria ekonomi. Dan kelas sosial ini akan mempengaruhi pada kehidupan   masyarakat.

6     Ilmu adalah  pengetahuan tentang sesuatu bidang  yang disusun secara bersistem

menurut metode tertentu  yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala

tertentu di bidang (pengetahuan) itu (KBBI, 2001: 423).

7     Kebiasaan membaca terdiri dari: a) Kebiasaan adalah sesuatu yang bisa dikejakan, antar pola untuk melakukan tanggapan terhadap situasi tertentu yang dipelajari oleh seseorang individu dan yang dilakukannya secara berulang untu hal yang sama(Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001:851)

b)  Membaca adalah menerima informasi, agar informasi baru atau yang masih tersimpan dan terpendam dapat diketahui dan dimanfaatkan (Syatri, 2002:1)

8    Aqidah Islam terdiri dari aqidah yaityu keyakinan pokok atau kepercayan dasar

KBBI, 2001:20).

9    Pemahaman  adalah  berasal dari kata ”paham”  yang berarti benar atau  pandai

benar dengan  mendapat awalan pe dan akhiran an  sehingga   memberikan

pengertian dan kepandaian tentang   sesuatu   (Dikbud, 1989 :   636).

PERANAN PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH DALAM FORUM KEGIATAN

PENGAJIAN IBU-IBU

A.  Pandangan beberapa tokoh  tentang  pendidikan luar sekolah

1   Menurut Kurniawan (1995:29) bahwa  Pendidikan luar sekolah     memegang

peranan penting dalam peningkatan kualitas sumberdaya  manusia dan ini

merupakan slah satu dari 4 (empat)  ketetapan pemerintah tentang strategi dasar

pembangunan pendidikan.  Dalam kaitan ini,  Kuntoro (1995:10)  menegaskan  bahwa PLS memegang peran penting dalam membelajarkan  warga masyarakat di berbagai dimensi  dan berfungsi sama dengan  komponen pendidikan  lainnya. Slah satu dari  komponen tersebut adalah  berupa kursus, pelatihan ketrampilan  bagi masyarakat pemuda dan  orang dewasa yang dilaksanakan oleh pemerintah dan masyarakat.

B. Peranan Pendidikan luar sekolah  dalam meningkatkan pengetahuan bagi  ibu-ibu

pengajian

Menurut Sarworno (1995:25) bahwa kualitas pendidikan suatu bangsa  dapat ditingkatkan  melalui jalur pendidikan non-formal (PLS) karena pendidikan  luar    sekolah  dapat memberikan pengetahuan dasar, sikap, nilai dan ketrampilan anggota  masyarakat yang tidak memperoleh kesempatan dalam pendidikan formal.

Berkaitan dengan forum pengajian ibu-ibu, maka peranan pendidikan luar Sekolah memberikan peran cukup besar dalam upaya membina aqidah, menambah wawasan pengetahuan, menjalin sifat sosial para peserta pengajian ibu-ibu.

Sedangkan Abdullah (1986) menegaskan bahwa kedudukan  pendidikan luar sekolah (PLS) dalam konteks  sistem pendidikan  bertugas  untuk melengkapi  dan menambah pengetahuan, sikap, dan ketrampilan yang telah didapat  di bangku sekolah atau juga sebagai penyelenggaraan secara khusus bagi masyarakat yang membutuhkan belajar.

Dengan demikian secara konsepsional, kegiatan pengajian ibu-ibu  merupakan strategi yang dimiliki  dalam program  PLS karena mereka tentunya  membutuhkan pengetahuan baik bidang keagamaan maupun ilmu dan ketrampilan lainnya.

C.  Forum pengajian sebagai kelompok PLS dan kaitannya  dengan upaya meningkatkan

Budaya  membaca

Sebagaimana diketahui bahwa sumber informasi atau sumber belajar terdapat dalam berbagai dimensi dimana seseorang atau kelompok itu berada maksudnya, ada sumber belajar yang bersifat menggerakkan yaitu berupa manusia dan ada yang bersifat digerakkan yaitu berupa fasilitas baik yang berwujud  koleksi tercetak atau non cetak atau dapat berupa lembaga informasi seperti perpustakaan. Dalam kaitan dengan forum pengajian ibu-ibu ini berarti fasilitas yang dimiliki dapat berupa guru pengajian itu sendiri atau bahan bacan yang tersedia dalam kelompok pengajian. Guru dapat memotivasi kebiasaan membaca bagi ibu-ibu berupa menghafal sesuatu bacaan untuk kepentingan penambahan ilmu keagamaan, melalui ceramah, penyampaian materi tentang berkeluarga, dan bermasyarakat. Jadi berbagai teknik dapat dilakukan dalam forum pengajian ibu-ibu guna membiana kebiasaan membaca. Seperti pepatah mengatakan bahwa ”ala bisa karena biasa” . Artinya ibu-ibu  dapat terbiasa membaca karena  selalu dibiasakan setiap dalam kegiatan pengajian. Dan membaca dapat dilakukan melalui bahan bacaan, juga melalui penyampaian guru.

D.  Beberapa aspek  keterkaitan dalam kegiatan pengajian ibu-ibu

1)  Sosialisasi  aqidah,  yang terdiri dari  Sosilisasi dan aqidah. Dalam Kamus Besar

bahasa Indonesia kata sosialissi adalah upaya memasyarakatkan sesuatu sehingga

menjadi dikenal, dipahami, dihayati oleh masyarakat (KBBI, 2001:1085).  Sedangkan

aqidah adalah  keyakinan pokok atau kepercayaan dasar  (KBBI, 2001:20).

Demikian kata sosialisasi  aqidah  usaha untuk memasyarakatkan tentang

kepercayaan  atau keimanan terhadap agama Islam bagi ibu-ibu kelompokm

pengajian.

2) Stratifikasi sosial dipandang dari  segi agama islam.

Stratrifikasi sosial adalah pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-

kelas secara bertingkat atas dasar kekuasaan, hak-hak istimewa dan prestise (KBBI,

2001:1092).

3) Kelassifikasi sosial dipandang dari aspek ekonomi dan status keluarganya.  Perbeddaan ibu-ibu inilah yang mempengaruhi kemampuan dalam meningkatkan pengetahuan dan budaya membaca.

4) Aspek kewajiban menuntut ilmu bagi kaum ibu-ibu.

Ibu-ibu merupakan orang dewasa baik yang telah kawin dan yang belum kawin yang termasuk dalam kegiatan pengajian adalah berstatus wanita atau perempuan.

Aspek kewajiban menuntut ilmu ini, sangat relevan dengan sebuah hadist yang menyebutkan bahwa menuntut ilmu adalah diwajibkan atas kaum muslimin dan muslimat, laki-laki dan perempuan ”Tholabul ilu faridotun ’ala kulli muslimin was muslimatin”.

Dari pengertian wajib di atas, maka manusia laki-laki dan perempuan tanpa terkecuali dituntut agar menuntut ilmu baik kepentingan duniawi maupun ahrawi.

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa :

1.1      Ibu-ibu pengajian biasanya  ibu-ibu  yang telah memiliki keluarga apakah yang

Baru memasuki jenjang berkeluarga atau telah memasuki usia lanjut (sudah masuk umur lima puluhan ke atas).

1.2      Ibu-ibu pengajian dapat merupakan hasil pembentukan suatu organisasi tertentu

seperti al-hidayah yang telah lama dibentuk oleh Partai Golkar (suadh ada sejak nama Golongan Karya) bukan Partai sekarang.

1.3   Forum pengajian seperti ini memiliki multi manfaat misalnya ssegi sosial kemasyarakatan

  1. Saran-saran

REFERENSI

Abdullah, Ishak. (1986). Straegi belajar PLS Model 1-3. Jakarta :  Komunika UT.

Departemen Pendidikan dan Kebudaya.  (1989)   Kamus  besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.

Kamus Besar bahasa Indonesia. (2001). Jakarta :  Balai Pustaka Depdiknas.

Kuntoro,A.Siddik (1995). Pendidikan untuk semua pendekatan budaya, Cakrawala Pendidikan ; edisi khusus, Mei :1-10.

Parwitaningsih, dkk (2008). Pengantar sosiologi. Jakarta : Penerbit Universitas terbuka.

Pringgoadisuryo, Luwarsih. (1991) Meningkatkan budaya membaca : makalah yang disampaikan pada seminar nasional dan rapat kerja pusat IPI di Semarang – Bandungan 27- Februari – 1 Maret 1991.

Sarwono  (1995). Srategi pendidikan pendidikan nasional :suatu argumen eksistensi  PLS dalam mendukung  pendidika untuk semua. Cakrawala pendidikan, edisi khusus Mei : 21.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: